Cara Menurunkan Bounce Rate

Banyak yang berpikir mengenai cara menurunkan bounce rate adalah dengan hal-hal teknis. Ngga salah sih, tapi juga ngga sepenuhnya benar. Karena bounce rate itu mutlak kaitannya dengan pengalaman pengunjung.

Bahasa kerennya sih user experience.

Nah, user experience itu terkait apa aja di dalam blog Anda ? Saya bukan pakar UI/UX, namun pada tulisan kali ini saya akan sedikit berbagi tentang bagaimana cara membuat angka bounce lebih rendah.

Sebelum masuk pembahasan, saya ulas dulu apa itu bounce. Jadi bounce adalah sebuah sesi saat pengunjung membuka satu halaman di blog Anda. Angka bounce ini biasa ditemukan di Google Analytics.

Jadi kalau ada pengunjung yang buka satu halaman, kemudian dia langsung keluar tanpa melakukan apa-apa, itulah bounce. Tapi kalau dia masuk ke artikel berikutnya, lalu baca lagi artikel lainnya, maka dia belum “bounce”. Pengertian versi saya begitu, haha.

Saya kasih contoh aja agar terbayang.

Misalnya halaman A dikunjungi 1.000 orang selama seminggu terakhir. Dari 1.000 pengunjung, ada 750 orang yang langsung keluar ketika selesai membaca, tidak melakukan aksi lainnya. Bounce rate halaman itu :

750 : 1.000 x 100% = 75%

Jadi bounce rate halaman itu 75%. Baik atau buruk ? Tergantung. Kalau itu halaman landing page jualan, ya masih wajar, karena memang pengunjung dipaksa tetap berada di sana, ngga ada akses ke halaman lain.

Tapi kalau halaman A berupa artikel di sebuah blog, menurut saya angkanya cukup tinggi. Artinya 3/4 dari seluruh pengunjung memilih untuk keluar dari blog Anda tanpa membaca artikel lainnya.

Cek Bounce Rate Blog Anda

Anda ngga perlu pusing-pusing menghitung bounce rate ya. Diatas cuma contoh aja. Statistik bounce rate keseluruhan blog, atau tiap-tiap halaman, semuanya lengkap tersaji di Google Analytics.

Makanya, di awal Anda membuat blog, penting untuk memasang Google Analytics ke blog Anda, agar bisa dipelajari data aktivitas pengunjung selama berada di dalam blog Anda.

Cara melihat persentase bounce rate blog Anda keseluruhan dengan cara masuk ke dashboard akun Google Analytics, di deretan menu sebelah kiri masuk ke menu Audience >> Overview.

Bounce rate rata-rata blog
Bounce rate rata-rata

Dari gambar di atas terlihat banyak informasi, salah satunya adalah bounce rate rata-rata blog Ngetik.id sebesar 55.83% selama 30 hari terakhir.

Kalau mau lihat persentase bounce rate masing-masing halaman di blog Anda, masuk ke menu Behaviour >> Site Content >> All Pages.

Bounce rate masing-masing halaman
Bounce rate per halaman

Dari gambar di atas tersaji informasi yang jauh lebih detail. Terlihat angka bounce rate halaman-halaman di blog Ngetik.id selama 30 hari terakhir, diurutkan dari halaman yang paling banyak mendapat kunjungan.

Cara Menurunkan Bounce Rate

Angka bounce rate menjadi tolak ukur seberapa banyak orang memilih bertahan & berkeliling ketika masuk ke blog Anda. Semakin tinggi angka bounce rate, artinya banyak orang yang keluar, padahal baru masuk di satu halaman saja. Artinya juga, ada yang salah dengan blog Anda.

Di bawah ini saya urutkan 15+ cara menurunkan bounce rate berdasarkan pengalaman pengunjung, mulai saat mereka browsing, menemukan blog Anda, hingga akhirnya masuk ke dalamnya.

1. Cek Kecepatan Blog

Ini adalah “tembok” pertama blog Anda yang ditemui pengunjung. Dari manapun mereka berasal, entah mesin pencari atau media sosial, mereka cenderung batal masuk blog Anda kalau loadingnya lama.

Sebegitu pentingnya kecepatan akses, terutama versi mobile. Google merilis mobile speed update pada Juli 2018 lalu dan menjadikannya sebagai salah satu faktor penentu peringkat sebuah halaman.

Artinya, kecepatan akses itu penting. Kalau mau menurunkan bounce rate, ya blog Anda harus cepat. Jangankan membuka halaman lain, kalau membuka halaman awal saja sudah lambat, mereka akan malas.

Tes kecepatan blog Rayadventure
Tes kecepatan akses

Di atas salah satu blog yang saya kelola. Anda bebas menggunakan platform apa untuk cek kecepatan. Saya contohkan salah satu aja pakai GTMetrix. Fokus ke “fully loaded time” ya. Kebanyakan orang fokus ke 2 skor yang sebelah kiri, ngga sadar kalau load time masih 3-5 detik.

Kalau blog Ngetik.id sedikit lebih lambat, karena banyak kode-kode tag GTM yang saya tanam untuk kebutuhan tracking data iklan di Google Ads.

2. Desain Yang Responsive

Selain kecepatan, desain blog juga penting, terutama, lagi-lagi kalau dibuka dari smartphone, pastikan desainnya responsive. Sebelum baca isi halaman, yang pertama terlihat di mata pengunjung adalah desainnya.

Coba aja Anda baca blog yang desain navigasinya tumpang tindih dengan judul artikel. Atau tulisan artikel terpotong di kanan-kirinya karena lebih lebar dari layar hp Anda. Jadi saat membaca sambil geser kanan-kiri.

Nyaman ngga kalau seperti itu ?

3. Konten Sesuai Search Intent

Kalau sudah ngga ada masalah dengan kecepatan dan desain blog, yang perlu Anda perhatikan adalah, pastikan artikel yang di buat sesuai dengan search intent / tujuan pencarian.

Kalau pengunjung datang dari media sosial, jangan sampai mereka jadi kecewa gara-gara isi artikel ngga sesuai dengan judul artikel super bombastis yang mereka lihat di media sosial.

Kalau pengunjung datang dari mesin pencari, pastikan isi artikel sesuai dengan kata kunci yang mereka ketikkan. Kalau ngga sesuai dijamin pengunjung kecewa dan langsung keluar.

Baca : Cara riset keyword sesuai search intent.

4. Konten Wajib Berkualitas

Selain harus dibuat sesuai dengan tujuan pencariannya, artikel yang Anda buat wajib berkualitas. Artikel berkualitas menurut saya adalah artikel yang orisinil, dan memberikan manfaat kepada pembacanya.

Manfaat yang dimaksud bisa berupa informasi pengetahuan baru untuk pembaca, bisa berupa suatu skill tertentu yang di dapat pembaca ketika membaca artikel Anda ( artikel tutorial ).

Kalau artikel Anda berkualitas, saya yakin pengunjung akan betah membaca, dan mereka akan lanjut baca yang lainnya, karena mereka pasti berharap dapat manfaat lagi dari artikel Anda yang lain.

Baca : Tips membuat artikel SEO berkualitas.

Hal ini sangat manusiawi, bukan hal teknis. Makanya di awal tadi saya bilang, untuk menurunkan bounce rate adalah dengan memperhatikan pengalaman pengunjung selama di blog Anda.

5. Konten Harus User Friendly

Sesuai search intent sudah. Berkualitas juga insya Allah sudah, menurut masing-masing, hehe. Cara menurunkan bounce rate selanjutnya adalah konten Anda harus ramah terhadap pembaca.

Ramah yang saya maksud disini berdasarkan beberapa hal, seperti penggunaan jenis & ukuran font. Pemilihan warna font & background blog, optimasi gambar agar tidak berat loadingnya, dan strategi penulisan paragraf yang ngga terlalu panjang.

Masuk akal ngga ? Kalau hal-hal seperti itu ngga Anda perhatikan, bisa jadi pembaca ngga nyaman baca artikel Anda. Saya pernah baca artikel di blog dengan tulisan abu-abu gelap dan background hitam.

Terbayang seperti apa kesalnya ? Hahaha.

6. Optimalkan Internal Link

Kunci utama untuk mengurangi angka bounce rate adalah membuat pengunjung membaca sebanyak mungkin artikel di dalam blog Anda. Salah satu caranya adalah dengan membuat internal link.

Baca : Penerapan internal link yang efektif.

Pastikan Anda meletakkan internal link di tempat yang tepat di dalam artikel, dan relevan. Bentuk internal link bisa di dalam paragraf, atau berdiri sendiri di paragraf baru, sebagai “artikel terkait”.

7. Penggunaan Anchor Text

Saat melakukan optimasi On Page SEO, salah satu yang penting diperhatikan adalah menggunakan anchor text yang tepat, relevan, dan menarik untuk di klik. Sehingga potensinya lebih besar bagi pembaca untuk melakukan klik.

Contohnya, Anda mengarahkan internal link ke artikel “cara agar diterima Adsense”, lalu Anda menggunakan anchor text “simak 5 trik saya agar diterima adsense dalam waktu cepat”.

Terlihat lebih menarik bukan ? Dengan begitu pembaca akan melakukan klik, membaca artikel baru, dan begitu seterusnya. Maka angka bounce rate rata-rata blog Anda akan turun drastis.

Baca : Berkenalan dengan 9 jenis anchor text.

8. URL Terbuka di Tab baru

Saya sempat baca penelitian di Uxmovement.com bahwa saat eksternal link di klik dan terbuka di tab yang sama, maka pembaca harus menekan “back” agar bisa kembali ke konten sebelumnya.

Dan hal tersebut buruk untuk pengalaman mereka.

Jadi penelitian tersebut menyarankan agar eksternal link yang mengarah ke website lain, di atur agar di buka di tab baru. Jadi konten Anda tetap terbuka saat mereka membaca isi eksternal link tersebut.

Membuka eksternal link di halaman baru
Open in new tab

9. Navigasi Blog Yang Mudah

Langkah berikutnya yang bisa Anda upayakan agar bounce rate menurun adalah dengan membuat navigasi blog yang mudah dan menarik.

Navigasi ini mencakup banyak hal ya, seperti tombol untuk next & previous article, navigasi untuk mengakses menu, atau tombol navigasi lainnya yang sekiranya ada di dalam blog Anda.

Dengan navigasi yang mudah, pembaca ngga akan malas untuk melakukan klik ke bagian lain di blog Anda. Ingat, pembaca adalah Raja, jadi harus dimanjakan dan dimudahkan, hehe.

10. Tersedia Kotak Pencarian

Biasanya sih kotak pencarian pasti ada di semua blog. Yang membedakan fitur tersebut bermanfaat atau tidak untuk pembaca adalah letaknya.

Seringkali fitur pencarian terletak di deretan atas sidebar. Mayoritas pengunjung kan mengakses blog Anda melalui smartphone mereka. Nah, otomatis fitur pencarian turun ke bagian paling bawah, setelah artikel.

Karena semua sidebar akan turun ke bawah kalau di buka dari handphone. Makanya saya meletakkan kolom pencarian di deretan menu agar mudah di akses. Contohnya Anda bisa lihat di blog ini, ada di atas kan ?

11. Memperbanyak Artikel

Cara menurunkan bounce rate dengan memperbanyak artikel memang ngga berdampak langsung sih. Tapi setidaknya memperbesar peluang pengunjung bertahan kalau banyak artikel menarik di blog Anda.

12. Kombinasi Warna Blog

Di bagian atas saya menyinggung soal desain tema blog yang wajib responsive. Selain itu, pemilihan warna juga penting lho. Jangan gunakan warna yang terlalu mencolok, atau kombinasi yang kontras.

Saya ngga terlalu paham, tapi kalau Anda mendalami bidang keilmuan seputar UI/UX, pemilihan warna itu ada filosofinya lho. Kalau tombol warna hijau efeknya apa terhadap aksi pengunjung, kalau background warna selain putih efeknya apa, dan banyak lagi lainnya.

Gunakan warna yang umum, hitam dan putih. Kalau mau menggunakan warna cerah, cari yang lebih “soft”. Contohnya blog ini, saya memilih warna dominan merah, tapi bukan merah Ferrari yang mencolok.

13. Jenis dan Warna Font

Pada poin 5 saya sudah singgung sedikit mengenai font. Jadi warna dan ukuran font memang wajib Anda perhatikan, agar pengunjung nyaman membaca meskipun kontennya panjang.

Disarankan untuk menggunakan jenis font yang umum, seperti Merriweather ( saya rekomendasikan ), Lato, Sans Serif, Courier Sans, dan sejenisnya. Ukuran font di antara 16-18 menurut saya cukup ideal.

Warna font pastikan berlawanan dengan warna background ya, agar tulisan Anda terbaca jelas. Misalnya latar belakang putih, pastikan warna font abu-abu gelap, atau hitam sekalian lebih baik.

14. Minimalisir Distraksi

Tips berikutnya yang saya bagikan terkait masalah bounce rate adalah mengurangi gangguan apapun di dalam blog Anda. Gangguan ini bisa berupa iklan, halaman pop up, dan sejenisnya.

Coba deh sekarang Anda buka situs berita, lihat isinya. Loading lambat, penuh iklan, sangat mengganggu pengunjung. Orang tetap “rela” berkunjung karena situs tersebut sudah sangat besar, memiliki konten yang super banyak dan update dalam waktu yang sering.

Apa kabar blog Anda yang update hanya seminggu 3 kali, eh ternyata loadingnya lambat, penuh iklan, layout nya aneh pula. Bisa jadi pembaca hanya berkunjung satu kali seumur hidup mereka #bercanda.

15. Menggunakan Plugin

Tips terakhir yang bisa Anda lakukan untuk mengurangi angka bounce rate adalah menggunakan bantuan plugin, beberapa diantaranya :

  • Reduce Bounce Rate.
  • WP Zero Bounce Pro.

Jujur saya taunya 2 itu aja, dan belum pernah mencoba. Kalau Anda tau nama plugin sejenis yang cukup keren, tuliskan di komentar ya. Dan resiko penggunaan plugin ditanggung masing-masing penumpang, hehe.

Penutup

Itulah informasi 15+ cara menurunkan bounce rate blog Anda, yang sebagian besar bisa langsung diterapkan di blog Anda. Setelah melakukan optimasi, pantau bounce rate Anda seminggu ke depan.

Semoga tulisan ini termasuk dalam kriteria tulisan yang berkualitas dan memberikan manfaat untuk Anda dan pembaca lainnya. Kalau ada tips yang perlu ditambahkan, tuliskan di komentar ya.

Komentar Pembaca . . .

  1. Bounce rate blog saya kisaran 25%, itu kayaknya karena blognya masih belum banyak isinya, kebanyakan baru judul dan foto saja hahaha…

    Kalau semua sudah full terisi tulisan mungkin bisa 10% yaa bounce ratenya, semoga…

    Tips menurunkan bounce rate kalau saya dengan memberikan related post di bawah artikel atau di sidebar. Lumayan kan mereka bisa baca-baca artikel lain. Kalau gambar thunbnailsnya menarik biasanya mereka akan kunjungi linknya.

    Gambar yang kece juga biasanya jadi daya tarik tersendiri, tapi ya asal di smushed jadi ga berat webnya karena gambar.

    Thank you tulisannya, bisa langsung dipraktekkan…

    • Hi mba Rora,

      Thanks a lot sudah mampir, hehe. Wah 25% mah udah jelas kontennya berkualitas. Pembaca jadi betah berlama-lama lihat konten2 yang lain. Blog ini masih 54% huhuhu.

      Anyway saya sepakat soal gambar. Thumbnail memang jadi daya pikat tersendiri untuk mengundang klik.

      • Iya saya lebih suka mampir di blog yang ini daripada yang satu lagi wkwkwk…

        Bounce rate saya segitu mungkin juga karena blog saya target market utamanya sebenarnya perempuan, yang suka penasaran dan klak klik sana sini kalo liat gambar atau judul keren.

        Trus blogger perempuan itu beneran baca sampai selesai, kalau blogger laki-laki kan kebanyakan udah jago ya topik blog kayak gini jadi ya mungkin bacanya skimming aja. Jadi cepet out deh.

        Iya ini blognya mungkin bisa ditambahin infografis kali ya biar agak bergambar hahaha…

        • Ahahahaha, yang satu lagi males update nya mba.

          Hoo iya juga, user behaviournya jadi berbeda ya. Wanita cenderung penasaran. Dan tergantung topiknya juga.

          Anyway kenapa saya angkat topik “mainstream” ini, karena setaun terakhir dpt kesempatan berbagi di kelas Gapura Digital yang pesertanya 100% ukm, ternyata masih banyak yang buta dunia web. Benar-benar buta, ngga tau harus memulai dari mana. Info di internet banyak, tapi bingung mulai dari mana.

          Jadi saya berusaha menjembatani dengan membuat konten yang berurutan. Nantinya mau disusun gt di satu halaman, jadia ada flow nya dari dasar, hehe.

          Thanks advice nya mba. Sukses selalu Affmoma yaa.

          • Hahaha iyaaa sebenernya konsep dasar AFF Moma juga gitu, jadi referensi lengkap untuk blogger-blogger perempuan belajar WordPress

            Semoga kita konsisten ya dengan topik ini hahaha…

            Semoga suatu saat AFF Moma dan Ngetik.id bisa berkolaborasi untuk hal-hal baik.

            Aamiin aamiin aamiin YRA.

          • Aamiin Allahumma aamiin mba. Lebih dari poin2 di atas, konsistensi adalah yang termahal menurut saya, ahahaha. Sukses selalu mba Rora.

            Suatu hari harus kolaborasi, biar kayak yutuber2 saling membangun subscribers mereka, haha.

  2. kalau boleh menambahkan mas, pemilihan font baik ukuran, warna dan jenis font nya juga berpengaruh terhadap bounce rate. Karena pada dasarnya font juga merupakan bagian dari UX. Font yang cantik dan dekoratif belum tentu menjadikan pengunjung betah di web kita. Namun font yg biasa-biasa saja dan cenderung mainstream terkadang malah membuat kita nyaman untuk membaca artikel yang panjang dan bobot kontennya cukup berat. ๐Ÿ™‚

    • Hi mas,

      Tentang font sudah saya singgung di poin ke 5 mas, hehe. Mungkin saya pisahkan jadi poin tersendiri mengenai font ya. Thanks sudah mampir mas.

  3. Blog terakhir yang saya buat tergolong masih sangat baru. Users masih dalam hitungan ratusan per bulan (sengaja belum di-share ke media sosial soalnya). Artikel di kisaran 600-1000 kata.

    Di Google Analytics, Bounce Rate 0.88% dan Session Duration 8 menit sekian detik (saat komentar ini saya tulis).

    Menurut Mas Alief, apa itu wajar?

    Saya juga kaget karena blog saya yang lain tidak semenarik ini data Analytics-nya.

    Sebagai catatan, tidak ada error di Google Analytics dan semua IP perangkat saya sudah saya filter.

    Terima kasih.

    • Kalau ngga ada yang error, angka itu bagus mas. Sangat bagus malah. Artinya user experience nya bekerja dengan sangat baik. User bertahan lebih lama di dalam blog Anda. Jenis artikelnya apa ? Tutorial kah ?

      • Bukan Mas.

        Saya mengangkat specific niche Relationship Course yang dikemas dengan gaya bahasa satire.

        Tujuan saya, agar user mendapat value yang mereka cari, dan di saat yang bersamaan bisa sambil terus tertawa.

        Strategi ini termasuk coba-coba sih sebebarnya, karena setahu saya, belum ada blog yang menggunakan cara yang sama.

        Tapi kalau data Analytics-nya stabil seperti ini, berarti ini adalah sebuah keberhasilan tersendiri, menurut saya.

        • Hhhmm menarik topik yang diangkat. Berarti yg datang ke blog sudah pasti segmented. Ditunggu publikasinya nih kalau sudah grow up, hehe.

          • Sapp, Mas Alief. Makasih juga buat NgetikID-nya

  4. Setelah diterapkan, ternyata menurunkan angka bounce rate lebih susah daripada mencari pengunjug blog gan….

    • Yap memang benar. Makanya saya selalu berfokus pada artikel berkualitas ( ini yg pertama dilakukan ) baru menerapkan tips2 di artikel ini. Kalau tips2 di artikel ini dijalankan tapi artikelnya memang tdk berkualitas, biasanya hasilnya juga ga akan signifikan.

      Thanks sudah mampir mas.

  5. kalau menurut saya, persoalan bounce rate itu kita selalu berupaya menyajikan yang terbaik terhadap pengunjung. dan selera pengunjung itu nggk bisa ditaksir ๐Ÿ˜€

    • Bisa kok mas, kalau sebelum launching blog sdh riset siapa saja calon pembaca artikel kita. Kerennya audience persona. Jadi tau gaya bahasa yg disukai, panggilan yg cocok, dan sebagainya.

Yakin Ngga Mau Diskusi ?

Yuk diskusi cerdas. Gunakan nama asli agar komentar Anda disetujui.